Melepas Pergi Perlahan

by -12 Views
Image Ilustrasi

RATIMNEWS.COM − Di penghujung tahun 2025 ini, aku mencoba untuk berhenti sejenak sambil melihat kembali semua yang telah dilakukan selama ini. Ada banyak hal yang sudah dimulai dalam waktu yang lama. Beberapa baru saja dimulai. Ada yang masih berjalan meski pelan. Beberapa lagi ternyata tidak berjalan sesuai rencana. Ada pula hal-hal yang sudah waktunya untuk dilepaskan meski penuh warna.

Banyak sekali hal baik dan penuh keajaiban yang terjadi di tahun ini. Tahun yang mengajarku banyak hal tentang usaha, tentang hubungan dibalik kata rasa dan tradisi dan tentang diri sendiri. Ada tawa, ada cinta, ada harapan dan ada juga hal-hal yang tidak bisa dikendalikan.

Sekarang, di saat hampir menutup lembaran di tahun ini aku merasa perlu merenung kembali. Inilah saatnya aku harus mengenang untuk bersyukur. Inilah saatnya untuk memaknai dan belajar melepaskan lembaran lama. Melepaskan berarti memberi ruang untuk belajar, untuk bernapas dan untuk melangkah ke depan dengan hati yang lebih ringan.

Melepaskan Tidak Pernah Benar-Benar Mudah

Melepaskan tidak pernah benar-benar mudah. Ia sering terdengar sederhana. Seolah hanya tentang mengikhlaskan lalu selesai. Padahal di dalamnya ada banyak perasaan yang harus dihadapi satu per satu. Ada kenangan yang masih hangat. Ada harapan yang belum sepenuhnya padam. Terlebih ada keinginan untuk bertahan meski semuanya tak bisa dikendalikan. Sementara, waktu terus berjalan tanpa kompromi.

Aku pernah berpikir bahwa melepaskan berarti aku lemah. Bahwa jika aku pergi berarti aku tidak cukup kuat untuk bertahan. Namun seiring waktu, aku mulai memahami bahwa melepaskan justru membutuhkan keberanian. Keberanian untuk jujur pada diri sendiri bahwa tidak semua hal bisa dipertahankan. Tidak semua yang kita cintai harus terus digenggam. Tidak semua yang kita impikan akan berhasil.

Melepaskan mengajarkanku untuk diam sejenak dan mendengarkan isi hati. Apakah aku bertahan karena cinta atau karena takut kehilangan? Apakah aku masih berjalan ke depan atau hanya berputar di tempat yang sama? Dari pertanyaan-pertanyaan itu aku mulai belajar membedakan antara berharap dan memaksa.

Melepaskan Berarti Belajar Menerima

Ada rasa sedih yang tidak bisa dihindari. Melepaskan berarti menerima bahwa sesuatu yang pernah menjadi bagian penting dalam hidup kini harus diletakkan. Bukan karena tidak berarti tetapi justru karena pernah begitu berarti. Ada hari-hari di mana kenangan datang tanpa diundang dan aku harus belajar tidak melawannya. Aku membiarkannya hadir lalu perlahan membiarkannya pergi lagi.

Dalam proses melepaskan aku juga belajar memaafkan. Memaafkan orang lain dan yang paling penting adalah memaafkan diri sendiri. Memaafkan pilihan-pilihan yang mungkin keliru. Kata-kata yang tidak sempat diperbaiki dan harapan yang terlalu tinggi. Aku menyadari bahwa aku melakukan yang terbaik dengan versi diriku saat ini.

Melepaskan bukan tentang melupakan. Ia adalah tentang menerima. Menerima bahwa hidup terus berjalan. Bahwa aku berhak bertumbuh dan bahwa ruang yang kosong bisa diisi dengan hal-hal baru. Dengan ketenangan, dengan pelajaran ataupun dengan versi diri yang lebih jujur.

Hari ini, aku masih belajar melepaskan. Pelan-pelan tanpa paksaan tanpa terburu-buru.  Ada hal-hal yang masih kusimpan rapi di sudut hati. Tentu itu bukan lagi untuk mengikat tetapi sebagai pengingat bahwa aku pernah berani merasakan. Dan itu tidak salah.

Melepaskan Harus Secara Perlahan

Aku belajar bahwa melepaskan jarang datang sebagai keputusan besar yang tiba-tiba. Ia lebih sering hadir dalam bentuk kesadaran kecil yang berulang. Tentang rasa yang tak bisa lagi disangkal. Tentang hati yang terus bertanya namun tak menemukan jawaban. Dari sanalah aku mulai paham bahwa tidak semua yang pernah kupegang harus terus kubawa ke dalam cerita yang baru.

Awalnya aku bertahan lebih lama dari yang seharusnya. Bukan karena semuanya masih baik-baik saja tapi karena aku takut pada ruang kosong setelahnya. Takut kehilangan rutinitas, takut pada sunyi, takut pada kemungkinan bahwa aku harus memulai dari awal. Aku menunda melepaskan dengan harapan waktu akan memperbaiki segalanya. Nyatanya waktu hanya menunjukkan apa yang memang sudah retak.

Melepaskan Mengajarkan Tentang Kejujuran

Melepaskan mengajarkanku tentang kejujuran. Tentang mengakui bahwa tidak semua rencana-rencana karya, mimpi-mimpi atau hubungan perasaan tumbuh ke arah yang sama. Ada yang berhenti, ada yang berubah bentuk dan ada yang memang harus berakhir. Mengakui itu tidak membuatku lemah. Justru membuatku lebih utuh sebagai manusia.

Ada hari-hari di mana aku merasa sangat kehilangan. Hal-hal kecil tiba-tiba terasa besar. Karya yang tak sepenuhnya berhasil. Kenangan yang terus hadir dalam ingatan. Persahabatan yang terpisah ruang pengabdian.  Lagu-lagu yang pernah sering didengar. Tempat yang pernah menjadi tujuan.  Atau kalimat sederhana yang dulu terasa sangat berarti. Sungguh aku tak buru-buru menyingkirkannya. Aku membiarkan semuanya lewat satu per satu sambil belajar bernapas lebih pelan.

Dalam proses ini, aku sadar bahwa melepaskan bukan berarti membuang masa lalu. Melepaskan adalah cara untuk menghormatinya tanpa harus terus tinggal di sana. Apa yang pernah terjadi tetap menjadi bagian dari ceritaku tetapi tidak lagi menentukan arah langkahku. Aku membawa pelajarannya bukan bebannya.

Melepaskan Mengajarkan Untuk Kembali Pada Diri Sendiri

Melepaskan juga mengajarkanku untuk kembali pada diri sendiri. Pada hal-hal yang sempat terlupakan karena terlalu sibuk mempertahankan sesuatu di luar diriku. Aku belajar mendengarkan kebutuhan hati. Aku mulai merawat luka yang lama terabaikan dan memberi ruang untuk tumbuh tanpa rasa bersalah.

Kini aku mengerti, melepaskan tidak selalu disertai rasa lega yang instan. Kadang ia datang bersama sepi, bersama kerinduan yang samar. Namun di balik itu, ada kebebasan yang perlahan terasa. Kebebasan untuk melangkah tanpa beban. Kebebasan untuk berharap tanpa takut dan untuk membuka hati pada kemungkinan-kemungkinan baru.

Aku masih belajar melepaskan setiap hari. Tidak sempurna dan tidak selalu berani. Tapi aku tahu satu hal: dengan melepaskan aku sedang memilih diriku sendiri. Dan itu adalah bentuk keberanian yang paling kuat dan paling jujur. ***

Terima kasih Tahun 2025

&

Selamat Datang Tahun 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *